Charming Blog

"Belajar untuk menjadi lebih baik dari kemarin"

Welcome To Charming Blog. Dont forget to follow me. thanks !!

         Ayahku sudah tiada. Sudah meninggal. Kata orang-orang kecelakaan saat mengajakku berjalan-jalan waktu aku masih kecil. Aku sendiri tidak ingat kejadian itu. Tinggallah aku bersama ibuku yang buta. Dia hanya memiliki satu bola mata. Aku tidak tau mengapa aku merasa malu setiap melihatnyalebih parah lagi dia menawarkan untuk memasak kebutuhan guru dan siswa di sekolah sana. Katanya untuk menutupi segalah kebutuhan rumah tangga dam membayar biaya sekolahku.
         Hari-hari pertama aku sekolah tidak ada masalah. Tapi pagi itu sungguh memalukan aku. Ibuku menyapa ku di depan teman-teman ku dengan panggilan “ nak . aku malu sekali, mengapa dia lakuakan ini padaku? Mau ditaruh mana mukaku di depan teman-teman ku yang anak orang-orang kaya. Rasa benciku segera menyusup ke dalam hati. Ibukuterbengong bengong dan akau segera berlalu. Sampai di dalam kelas aku diejek teman ku, “lagaknya sih boleh juga, sayang nya hanya anak seorang ibu bermata satu, ha... ha... ha...” seisi kelas serasa menertawakan ku. Rasanya aku ingin mengubur diriku sendiri agar tidak di ejek lagi orang-orang di sekitarku. Ingin juga mengubur ibuku agar tidak lagi membuat ku malu.


         Sampai di rumah aku maki-maki ibuku. “kalau ibu hanya membuat aku di tertawakan, kenapa ibu tidak mati saja?” ibuku hanya terdiam saja. Aku tambah marah melihat ibuku acuh tak acuh dengan apa yang aku katakan tadi. Aku tak mau tau bagaimana perasaan ibuku tadi. Yang aku inginkan saat itu pergi jauh-jauh dari rumah dan tidak lagi berhubungan dengnan ibuku. Aku putuskan segera lulus denagn nilai yang sangat baik dan kemudian meninggalkan kotaku untuk melanjudkan kuliah di Jakarta. Aku belajar dengan sangat keras.
         Akhirnya aku lulus. Kutinggalkan ibuku yang buta sebelah dengan kebencian yang tak susut sedikitpun. Aku kuliah sambil bekerja. Lulus dengan sangat memuaskan. Dan langsung bekerja disebuah perusahaan yang bonafit. Kemudian membeli rumah, mobil dan semua kebutuhanku. Aku lupakan sama sekali ibuku, aku tidak lagi lagibertemu dengannya dan aku juga tidak pernah pulang. Aku kemudian menikah dan memiliki beberapa anak yang manis dan lucu. Aku sungguh bahagia dan nyaman dengan apapun yang sekarang yang aku miliki.
         Hingga suatu hari ibuku datang dari kampung ke rumahku Jakarta. Aku heran dari mana ibuku bisa tahu alamat rumahku. Aku tak pernah bertemu dengannya bertahun-tahun. Mungkinkah ibuku teteap merindukanku meski aku membencinya? Aku mulai kasian padanya. Kulitnya yang semakin keriput, berjalan dengan pertolongan tongkat. Berpakaian layaknya pengemis. Wajahnya tak berubah kecuali banyaknya keriput, tampak sekali menahan derita dan beban hidup yang berat. Bertahun-tahun tak pernah bertemu dengan ku, dengan anak dan isteriku. Aku hanya menatap ibuku dari balik jendela. Menatap ibuku yang selangkah demi selangkah menuju pintu rumahku.
         Ibuku sampai depan pintu rumah dan mengetuk pintu rumahku. Anak-anakku keluar membukakan pintu. Segera terdengar suara gaduh di depan, anak ku mengejek dan menertawakan ibuku dikatainya ibuku si mata satu, si buta dari gua hantu dan pengemis jelek. Kebencian ku kembali munculteringgat temen-temen dan orang-orang di sekeliling ku. Istri ku keluar melihat pa yang terjadi, aku segera menyusul dan mengusir ibuku sebelumistriku tau di adalah ibuku, “ngapain kamu ke sini? Kakau mau ngemis sana di traffic light! Pergi kau, akut-nakuti anakku saja!”
         Ibuku sempat menatapku dengan pandangan lembut dan teduh seorang ibu. Mungkin dia puas telah melihatku, dia hanya menjawab lirih “maaf saya salah alamat...”ibuku kemudian berlalu dengan pelan, dengan langkah bertatih-tatih. Ada rasa sakit dalam diriku telah memperlakukan ibuku seperti ini. Tapi rasanya maluku lebih besar dan mengalahkan segalanya.
         Beberapa hari berikutnya datang sepucuk surat ke kantorku. Undangan reuni SMA-ku. Aku putuskan untuk datang. Aku bilang ada rapat di luar kota ke istriku. Selesai acara reuni aku merasa ingin melihat rumahku.
         Dari kejauhan, aku lihat gubug tempat tinggalku bertambah tua dan usang. Sudah rusak disana sini. Di sini dulu aku tinggal bersama ibuku yang sampai sekarang masih kubenci.
         Aku segera memutar balik mobilku dan tidak menengok barang sesaatpun keadaan gubug dan ibuku kecuali hanya melihat gubugku dari jauh. Baru aku memutar haluan, datang Parto dari arah depan. Parto teman sekolah dan teman sepermainan yang rumahnya di sebelah gubug ku.
         “ibumu meninggal dirumah beberapahari yang lalu. Ibumu sakit sepulang dari Jakarta untuk menemuimu. Baru ketahuan setelah sehari meninggal” aku terkejut. Ada perasaan kehilanggan yang tiba-tiba datang. Ada perasaan bersalah. Aku segera menoleh kebelakang. Ke arah gubugku tempat ibuku menghembuskan napas terakirnya. Sendirian, tak ada yang menunggu. Tapi aku tidak percaya, aku segera berlari ke gubugku dan mendapati ruang rumahku kosong. Tak ada lagi ibuku. Aku menanggis mengginggat semua kesalahan yang telah aku lakukan. Permohonan maafku terus mengalir sangat lirih dari lisanku. Parto berusaha menenangkanku.
         “dua hari sebelum meninggal, aku bertemu ibumu. Kuceritakan kalau kamu akan datang di reuni kita dan beliau menitipkan surat ini. Bacalah surat dari ibumu, barangkali ada pesan beliau untuk mu” begitu kata Parto. Aku segera membuka surat itu dan membaca tulisan tanggan ibuku yang diusahakan sebaik mungkin menulisnya.

Anakku yang kusayangi, ibu memikirkanmu setiep saat, sepanjang hidup ibu.ibu tahu kamu akan datang di reuni sekolahmu tapi ibu minta maaf,ibu tidak bisa menemuimu karena ibu sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur ibu. ibu juga minta maaf sudah lancang berkunjung ke rumahmu dan membuat anak-anakmu takut. Ibu minta maaf telah membuatmu malu karena hanya memiliki satu mata.
Ketahujilah wahai anakku, waktu kamu kasih kecil, kamu dan ayahmu mengalami kecelakaan, Ayahmu meninggal, mata mu luka parah dan divonis buta oleh dokter. Sebagai seorang ibu, ibu tidak sampai hati melihatmu harus tumbuh besar dengan satu mata. Hingga ibu putuskan untuk memberikan satu mata ibu padamu. Ibu sangat bangga mengetahui kamu bisa melihat keindahan dunia yang luas dengan mata ibu.

Dari ibumu, yang selau menyayangimu.

0 pesan n' kesan:

Poskan Komentar

please coment here ...